
Kitab Ta'lim Muta'alim. [nu.or.id]
Syaikh Said Ramadan al Buty pernah melempar kritik
keras kepada Husain Haikal, atas karakteristik penulisan sejarah Nabi Muhammad
yang dirasa terlalu rasional dalam bukunya Hayatu Muhammad. Husain
Haikal bisa jadi memilih karakter ini karena dunia modern lebih siap menerima
cerita-cerita yang masuk akal dibanding cerita-cerita yang irasional.
Kisah Isra’ Mi’raj misalnya,
digambarkan oleh Husain Haikal sebagai perjalanan ruh semata menuju Sidratul
Muntaha. Unsur-unsur mukjizat dihilangkan oleh Husain Haikal sehingga
bukunya tampak lebih ilmiah. Terkait hal ini, beberapa pakar menyebut bahwa ini
dilakukan oleh Husain Haikal agar buku ini dapat diterima oleh orang-orang
barat yang cenderung rasionalis. Tetapi bagi Al-Buty, unsur irasionalitas telah
menyatu dengan identitas umat Islam sehingga tak semestinya dicerabut.
Beragama
memang perlu menggunakan akal (rasio) tetapi sisi irasional dalam Islam menjadi
urgen untuk diyakini. Ada beberapa hal dari ajaran agama yang akal tidak akan
bisa menjamahnya, sehingga peran hati (iman) menjadi penentu utama. Dalam
sejarahpun, beberapa kali Nabi menujukkan hal-hal irasional yang tidak dapat
dinalar dengan akal dan hanya berpatokan pada iman, semisal perjanjian
Hudaibiyah. Poin-poin perjanjian Hudaibiyah secara akal sangat merugikan,
memojokkan dan mendiskrimasi muslimin, tetapi karena persetujuan atas
perjanjian ini dikawal oleh wahyu, maka akal musti diletakkan terlebih dahulu
untuk kemudian menggantinya dengan peran hati. Dan secara de facto,
sejarah telah menjawab bahwa perjanjian ini justru menguntungkan umat Islam.
Mukaddimah
di atas cukup untuk menjadi gambaran bahwa Islam meskipun sangat menghargai
akal, tetapi tak benar-benar melepaskan diri dari unsur irasional. Sehingga di
kalangan pesantren, unsur-unsur irasional ini menjadi warna tersendiri yang
tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Di sinilah kitab Ta’lim
Mutallim mengambil tempat, ia hadir menambah legalitas pesantren
sebagai komunitas yang mempercayai unsur rasional dan irasional secara
bersamaan, bahkan di kalangan pesantren tertentu, unsur irasional menempati
tempat yang melebihi unsur rasional.
Ta’lim Muta’allim lahir
dari kegelisahan Burhanuddin Al-Zarnuji terhadap hilangnya nilai-nilai budi di
kalangan para pencari ilmu, kecemasan itu menjadi alasan terkuat baginya untuk
menulis kitab ini. Para pencari ilmu yang notabene cemerlang di dalam masa
belajarnya, bisa mendadak tidak mampu berperan lebih di masyarakat setelah ia
pulang. Kematangan ilmunya selama masa perantauan seperti hilang taringnya saat
terjun di masyarakat. Oleh az-Zarnuji, kasus ini dianggap terjadi karena
abainya mereka terhadap unsur irasionalitas yang turut menentukan kiprah
intelektualitas seseorang.
Kelompok
rasionalis mungkin akan menganggap bawa intelektualitas akan direngkuh dengan
belajar dan kesungguhan semata. Tetapi Az-Zarnuji telah menyihir kaum sarungan
(pesantren_ dengan paradigma baru bahwa ada unsur besar lain yang menunjang
intelektualitas seseorang dan unsur itu murni melibatkan hati. Az-Zarnuji
menyebutkan misalnya, hormat kepada guru dan keluarganya, berdiri saat mereka
berjalan, menyayangi anak-cucu dari sang guru juga menjadi penentu dari
terbukanya intelektualitas seseorang.
Redaksi
beliau dalam Ta’lim Mutaallim sebagai berikut:
Bentuk
dari menghargai guru adalah tidak berjalan di depannya, tidak duduk di
tempatnya, tidak memulai cakap dengannya kecuali diizinkan, tidak banyak bicara
di hadapannya, tidak bertanya saat ia bosan, menjaga waktunya, tidak mengetuk
pintunya tetapi menunggunya keluar.
Kalimat
magis tersebut sarat akan muatan akhlak dan diyakini oleh az-Zarnuji dapat
menunjang kemapanan keilmuan seseorang. Az-Zarnuji secara umum telah berhasil
mendoktrin pondok-pondok dalam mengaplikasikan tatanan akhlak baru di atas
standar akhlak pada umumnya. Dan hebatnya, pemahaman akan unsur irasionalitas
sebagai penunjang keilmuan ini benar-benar diyakini di kalangan pesantren
sebagai hal yang nyata dan faktual. Standar akhlak lain ala Az-Zarnuji yang
sarat nilai semisal; jangan meletakkan pena di atas buku, seyogyanya
meletakkan kitab tafsir di susunan teratas, tidak memakan makanan pasar dan
lain sebagainya.
Poin-poin
akhlak di atas dikuatkan oleh Az-Zarnuji melalui kisah Khalifah Harun al Rasyid
yang menyaksikan putranya menuangkan air untuk sang guru (Imam Al-Asmu’i)
sementara sang guru meratakan air di kakinya. Khalifah tidak berkenan dengan
kejadian ini dan mengatakan kepada Imam Al-Asmu’i saat itu: Kenapa tidak kau
suruh anakku menyiram dengan tangan kanan dan meratakannya di kakimu dengan tangan
kirinya? Seroang raja hebat, bergelimang harta, berkedudukan, tetap mempercayai
bahwa unsur irasionalitas memiliki peran terhadap keilmuan anaknya
Tapi
meski begitu, Az-Zarnuji tak melupakan begitu saja unsur rasional, ia juga
menuliskan teknik-teknik belajar yang tepat dalam Ta’lim Mutallim untuk
mengasah akal para pencari ilmu. Dalam bab al-Jiddi wa al Muwadlobah wa
al-Himmah beliau menuturkan:
“Wajib bagi pencari ilmu untuk mempelajari
pelajarannya, mengulang-ulang di awal dan akhir malam, karna waktu antara
maghrib dan isya serta waktu sahur adalah waktu yang diberkahi… wajib bagi
pencari ilmu untuk memiliki hasrat yang besar dalam belajar, karena manusia
akan terbang dengan impiannya seperti burung terbang dengan sayapnya.”
Maka Az-Zarnuji membuka mata muslimin secara khusus, bahwa kematangan intelektual selain ditentukan dengan belajar, juga terdapat unsur irasionalitas yang juga turut andil mendorong keberhasilan belajar seseorang. Kedua unsur ini musti berjalan beriring tanpa menanggalkan salah satunya. Dan di dunia pesantren, kita mendapati keduanya berjalan secara mesra dan harmonis. Paradigma yang telah mengakar di pesantren adalah bahwa irasionilatas juga turut berperan pernting dalam menunjang intelektualitas, sesuai apa yang diajarkan oleh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Unsur irasionalitas ini di kalangan pesantren biasa disebut dengan barokah.
Syaddad
Ibnu Hambari, alumnus
Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (2016) dan UIN Sunan Ampel (2021), dosen di
STIT Raden Santri Gresik
SUMBER: https://alif.id/read/sih/mengenal-kitab-pesantren-68-kitab-talimul-mutaallim-ketika-irasionalitas-menentukan-intelektualitas-b242913p/
.png)

No comments:
Post a Comment