![]() |
| Syarah Ta'lim Muta'alim. [istimewa] |
Telah kita pahami
pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di nusantara. Ia telah
lahir dan bertahan berabad-abad. Meskipun perubahan zaman menuntut pesantren
untuk melakukan perubahan-perubahan. Di sisi lain, peran pesantren di Indonesia
sebagai lembaga keagamaan yang menjadi basis perlawanan terhadap segala bentuk
penjajahan, lembaga pendidikan, lembaga penelitian, lembaga keilmuan, lembaga
pelatihan dan lembaga pengembangan masyarakat sekaligus simpul budaya.
Secara historis kitab
Ta'līm al-Muta'allim Tarīq al-Ta'allum merupakan rujukan penting di lembaga
pendidikan Kesultanan Utsmaniyyah, yakni Harm Asyraf al-Mulūk wa as-Salāthīn.
Dari namanya dapat dipahami bahwa lembaga tersebut bersifat privat bagi
keluarga para Sultan Utsmani, semacam lembaga khusus untuk pembinaan para anak
Sultan sehingga terwujud generasi penerus yang layak memimpin masyarakat. Oleh
karena itu, kitab tersebut disusun syarah-nya oleh Syaikh Ibrahim ibn Isma’il
rahimahullāh dan dipersembahkan kepada Khalifah al-Ghazi Murad III Khan ibn
Salim II ibn Sulaiman al-Qanuni ibn Salim ibn Bayazid II ibn Muhammad II
al-Fatih ibn Murad II ibn Muhammad ibn Bayazid ibn Murad ibn Urkhan ibn Utsman
ibn Urthughril ibn Sulaiman rahimahumullāh.
Sebagaimana
diriwayatkan bahwa pada masa Khalifah Salim II terjadi pengiriman bantuan
militer Kekhalifahan Utsmaniyyah kepada Kesultanan Aceh Darussalam dan
penetapan bahwa wilayah yang dipimpin Aceh adalah bagian dari Utsmaniyyah.
Artinya, Syarah terhadap kitab Ta'līm al-Muta'allim Ṭarīq al-Ta'allum disusun
setelah masa tersebut sekitar tahun 1574 – 1595 M, semasa dengan era Panembahan
Senopati (Kesultanan Mataram Islam), Maulana Yusuf dan Maulana Muhammad
(Kesultanan Banten), Panembahan Ratu (Kesultanan Cirebon) dan Prabu Geusan Ulun
(Kerajaan Islam Sumedang Larang).
Berdasarkan beberapa
data-data yang telah disebutkan, matan Ta’līm al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta'allum
dan syarah-nya sampai ke Nusantara sejak masa Syaikh Cholil al-Bangkalani dan
murid-muridnya telah diajarkan di Nusantara, terutama di Jawa melalui jaringan
Ulama Jawi – Mekkah sekitar abad 19 - 20 M. Diketahui bahwa kitab Ta’līm
al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta'allum adalah rujukan para Sultan Utsmani kemudian
syarah-nya dipersembahkan kepada Khalifah Murad III al-Utsmani. Secara madzhab
jelas berbeda dengan Mekkah ataupun Ulama Jawi, karena Utsmaniyyah dan penulis
kitab Ta’līm al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta'allum adalah Hanafiyyah sedangkan Mekkah
secara umum termasuk Ulama Jawi adalah Syafi'iyyah. Persembahan penulis syarah
kepada Khalifah Murad III hingga kini tercetak dalam naskah yang dipakai di
berbagai pesantren Nusantara.
Pembelaan terhadap
kekhalifahan Utsmaniyyah dilakukan oleh al-Mufti Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan
al-Hasani sebagai Syaikhul Masyaikh Ulama Jawi hidup semasa dengan Khalifah
Abdul Hamid II yang termaktub dalam karya-karyanya : al-Futuhat al-Islāmiyyah
dan Khulaṣah al-Kalam. Pembelaan lainnya pun sebagaimana yang ditempuh al-Qadhi
Syaikh Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani. Kedua ulama tersebut dijadikan rujukan oleh
ulama-ulama nusantara.
Apa yang dikaji dalam
kitab Ta’līm al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta'allum dan syarahnya yang bersandar pada
pendapat Ulama Hanafiyyah tidak berbeda dengan penjelasan dalam kitab Tadzkirah
as-Sāmi' wa al-Mutakallim karya Imam Ibn Jama'ah yang bersandar pada pendapat
Ulama Syafi'iyyah.
Pada umumnya, merujuk
pada tradisi belajar - mengajar para Ulama di era Sahabat, Tabi'in dan Tabi'
Tabi'in. Bahkan sebagiannya jelas dinisbahkan pada masa Nabi Ṣalla Allah
‘Alaihi Wa Sallam. Adab terhadap ilmu dan guru yang diajarkan dalam matan
Ta’lîm al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta'allum dan syarah-nya adalah bagian dari hukum
Syariah, bukan sekedar tradisi masyarakat yang boleh berubah, karena bersandar
pada hadits Nabi Ṣalla Allah ‘Alaihi Wa Sallam, pendapat Sahabat dan Tabi'in,
serta para Ulama setelahnya. Artinya, bisa jadi rujukannya dalil ataupun
ijtihad Ulama.
Kajian Pendidikan
Islam dalam matan Ta’lîm al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta'allum dan syarah-nya bisa
dibandingkan dengan karya ulama lain dengan madzhab berbeda selain at-Tadzkirah-nya
Imam Ibn Jama’ah, semisal al-Faqîh wa al-Mutafaqqih-nya Imam al-Khathib
al-Baghdadi, Jâmi’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih¬-nya Imam Ibn Abdill Barr, Ihyâ`
‘Ulûm ad-Dîn-nya Imam al-Ghazali, at-Tibyân fi Adab Hamlah al-Qur`ân,
al-Majmû’-nya Imam an-Nawawi dan Adab al-‘Alim Wal-Muta’allim KH. Hasyim
Asy’ary.
Terlebih lagi,
penulis matan Ta’līm al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta'allum dan syarah-nya adalah
Ulama Hanafiyyah yang madzhabnya dikenal sebagai Ahli Ra`yu. Apabila kajiannya
sesuai dengan pendapat Ahli Atsar menunjukkan adab - adab yang masyhur dalam
kitab Ta’līm al-Muta’allim Ṭarīq al-Ta'allum dan syarah-nya adalah bagian dari
ajaran Islam yang tidak bisa digantikan oleh teori apapun dari Pendidikan
Barat. Yang juga termasuk dalam bahasan ini ialah adanya keterkaitan antara
maksiat dengan keberkahan ilmu, yang ditolak oleh Pendidikan Barat yang
dianggap ”modern”. Bagi para pelajar muslim, keterikatan pada hukum Syariah
adalah perkara penentu dalam hasilnya ilmu bermanfaat bagi dirinya dan
masyarakat secara umum. Keberkahan ilmu yang didapatkan melalui penerapan adab
terhadap ilmu dan Ulama merupakan ciri khas santri dan alumni dari Pesantren
Salafiyyah di Nusantara secara umum, terutama di Pulau Jawa.
Kesimpulan
Matan Ta’lîm
al-Muta’allim dan syarah-nya sudah diajarkan oleh thabaqah (tingkatan generasi)
Ulama setelah KH. Tubagus Ahmad Bakri As-Sampuri dan KH. Hasyim Asy'ari
rahimahullāh. Setidaknya kitab tersebut sudah dikenal luas di era keduanya
ataupun di masa para gurunya seperti Syaikh Cholil al-Bangkalani. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa matan Ta’lîm al-Muta’allim Tarīq al-Ta'allum
dan syarah-nya sampai ke Nusantara melalui hubungan Mekkah sebagai bagian
Wilayah (setingkat Kegubernuran/Provinsi) dari Daulah 'Aliyyah Utsmaniyyah yang
merupakan Kekhalifahan-nya kaum muslimin saat itu dengan para Ulama Jawi yang
belajar di sana.
Matan Ta’lîm
al-Muta’allim dan syarah-nya jelas terlihat dalam Kurikulum Pesantren
Salafiyyah (Tradisional) terutama di Pulau Jawa. Dapat ditetapkan bahwa
"ruh" dari pondok pesantren adalah konsep Pendidikan Islam yang
dijelaskan dalam matan Ta’līm al-Muta’allim dan syarahnya, terutama terkait
adab terhadap ilmu dan guru. Sebagian pihak menuduh pengaruh tersebut adalah
"penghambat kemajuan" yang tidak sesuai dengan perkembangan
pendidikan modern. Kritis terhadap kajian Pendidikan Islam di masa lalu
dibenarkan jika bersandar pada dalil dalam bahasan materi ajar dan metode
belajar yang bersandar pendekatan ilmiah dalam bahasan teknik serta sarananya.
Sedangkan kritik bersandarkan pada konsep Pendidikan Barat jelas keliru karena
sudah berbeda sejak asasnya, yakni Sekulerisme. Apa yang dianggap tradisi masa
lalu oleh Pendidikan Barat sebagiannya adalah bagian dari hukum Syariah,
termasuk konsep utama seputar adab terhadap ilmu dan guru.
Naskah selengkapnya silakan didownload dan
disebarluaskan dalam Islamic Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol. 4
No. 2 tahun 2020 .
https://ejournal.iainbukittinggi.ac.id/index.php/islamt/article/view/3429
Tatang Hidayat & Abdurrahman Al-Khaddami, pegiat Student Rihlah
Indonesia
SUMBER: https://kumparan.com/tatang-hidayat1524230892837/matan-and-syarah-talim-mutaallim-jejak-utsmani-dalam-kitab-kuning-di-nusantara-1wTw7igLdfE/4

.png)

No comments:
Post a Comment