![]() |
| Kitab Ta'lim Muta'alim. [istimewa] |
Tidak asing lagi dibenak kita
mendengar kitab Ta'limu Muta'allim, di setiap pondok pesantren atau
lembaga pasti dipelajari kita ini, bahkan di sebagian pondok mewajibkan
santrinya untuk menghafal bait-bait kitab ini. Dalam kitab Ta'limul Muta'allim
ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh sang pelajar ataupun
pengajar, dari mulai cara belajar sampai patner belajar.
Menurut Syekh al-Zarnuji belajar adalah berniat
mencari ridha Allah, sebagai mana dijelaskan dalam kitabnya "Seseorang
yang menuntut ilmu harus bertujuan mengharap rida Allah, mencari kebahagiaan di
akhirat, menghilangkan kebodohan baik dari dirinya sendiri maupun dari orang
lain, menghidupkan agama, dan melestarikan Islam. Karena Islam itu dapat
lestari, kalau pemeluknya berilmu.
Zuhud dan takwa tidak sah tanpa disertai ilmu.
Syekh Burhanuddin menukil perkataan ulama sebuah syair: "orang alim yang
durhaka bahayanya besar, tetapi orang bodoh yang tekun beribadah justru lebih
besar bahayanya dibandingkan orang alim tadi. Keduanya adalah penyebab fitnah
di kalangan umat, dan tidak layak dijadikan panutan."
Dan dari sinilah letak perbedaan mendasar antara
belajar yang dirumuskan oleh al-Zarnuji dengan para psikologi lainnya, dimana
disana beliau membagi hukum mempelajari ilmu diantaranya ada ilmu yang
hukumnya wajib 'ain dipelajari, wajib kifaya, dan haram dipelajari.
Bertambah berkembangnya tekhnologi di era melenial
ini berdampak dalam usaha dan proses peningkatan kualitas pendidikan baik pada
tataran konsep maupun praktiknya. Apalagi kalau dihubungkan pada kitab Ta'limul
Muta'allim sangatlah jauh, perlu kiranya penerapan lagi
pembelajaran-pembelajaran yang ada di dalam kitab Ta'limul Muta'llim, misalnya
dalam disebutkan:
“Seseorang yang menuntut ilmu haruslah didasari
atas mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan. Dan dia tidak boleh bertujuan
supaya dihormati manusia dan tidak pula untuk mendapatkan harta dunia dan
mendapatkan kehormatan di hadapan pejabat dan yang lainnya.”
Dari kutipan diatas perlu kiranya kita berpikir
kembali bahwa apakah niat menuntut ilmu kita sudah lillahi ta'ala dan tidak
karena ingin mendapat kehormatan atau sanjungan dari orang lain?
Sejauh penulis melihat pada zaman sekarang,
mayoritas seseorang menuntut ilmu bukan karena mensyukuri nikmat akal dan kesehatan
badan yang sesuai dengan bait-bait kitab Ta'limul Muta'allim, tapi malah ingin
mendapat kehormatan dari orang lain dan ingin mendapat jabatan yang tinggi.
Maka dari itu marilah kita pelajari lagi kitab Ta'limul Muta'allim agar menjadi
manusia yang sesuai dengan tuntunan syari'ah. Dan menuntut ilmu sesuai dengan
aturan-aturan dalam kitab itu.
Syekh al-Zarnuji juga memperbolehkan memiliki
tujuan menuntut ilmu selain untuk tujuan akhirat seperti tujuan untuk dunia,
akan tetapi tujuan keduniaan tersebut harus menjadi pendukung dalam mencapai
tujuan akhirat, sebagaimana disebutkan dalam kitab.
“Seseorang boleh memperoleh ilmu dengan tujuan
untuk memperoleh kedudukan, kalau kedudukan tersebut digunakan untuk amar
makruf nahi munkar, untuk melaksanakan kebenaran dan untuk menegakkan agama
Allah. Bukan mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, dan tidak pula karena
memperturutkan nafsu. Seharusnyalah bagi pembelajar untuk merenungkannya,
supaya ilmu yang dia cari dengan susah payah tidak menjadi sia-sia.”
Oleh karena itu, bagi pembelajar janganlah mencari
ilmu untuk memperoleh keuntungan dunia yang hina, sedikit dan tidak kekal.
Seperti kata sebuah syair: Dunia ini lebih sedikit dari yang sedikit, orang
yang terpesona padanya adalah orang yang paling hina. Dunia dan isinya adalah
sihir yang dapat menipu orang tuli dan buta. Mereka adalah orang-orang bingung
yang tak tentu arah, karena jauh dari petunjuk.
Dalam kitab ini juga dibahas tentang seseorang yang
ingin mendapat ilmu harus memiliki enam kategori, dintaranya kecerdasan, tama'
dengan ilmu, sabar, bekal, petunjuk guru, dan waktunya lama. Jika semuanya itu
belum dimiliki oleh murid maka jangan harap memperoleh ilmu yang hakiki.
Dan yang harus dimiliki oleh sang murid adalah
sifat menghormat atau mengagungkan guru dan kitab. Syaidina Ali berkata dalam
kitab Ta'limul Muta'allim "Saya akan menjadi budaknya orang yang
mengajarkanku satu huruf, dan jika seseorang itu ingin menjual atau memperbudak
Syaidina Ali, maka Syaidina Ali bersedia." Menghormati kitab dengan
memperbagus tulisan, tidak menulis dengan tulisan kecil, dan tidak menulis
dibagian pingir kecuali ada kepentingan (darurat).
Kesimpulannya adalah kitab Ta'limul Muta'allim
seharusnya lebih ditingkatkan lagi dalam pembelajaran, karena isi atau
bait-bait kitab tersebut sangat relevansi terhadap kehidupan dalam menuntut
ilmu, apalagi dalam mahasiswa. Jadi perlu kiranya bagi guru ataupun murid
mengkaji lebih dalam kitab ini, agar menjadi manusia berintelektual
agamis.
Yuswandi, mahasiswa
dan jurnalis.
SUMBER
:https://www.kompasiana.com/andi37099/5c7a00afaeebe1629e5ccf26/relevansi-kitab-ta-limul-muta-allim-di-era-melenial?page=all#section1

.png)

No comments:
Post a Comment