![]() |
| Kitab Ta’limul Muta’allim. [istimewa] |
Setiap orang tua yang waras pasti mendambakan
anak yang saleh menjalankan perintah agama. Juga mendapatkan ilmu yang
bermanfaat. Dengan ilmu yang tertanam di hati, anak mengaktualisasikan diri
membangun negeri, mencurahkan segala potensi untuk orang banyak, alias
keberadaannya bermanfaat untuk orang banyak. Bagaimana caranya?
Cara untuk mencapai dua tujuan itu dijelaskan
Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji (wafat pada 593 Hijriyah) dalam Kitab Ta’limul Muta’allim fi Thariqit Ta’allum (Panduan
menuntut ilmu untuk pelajar). Syekh Burhanuddin disebut juga Burhanul Islam.
Beliau adalah ahli fikih (al-faqih) dan
cendekiawan (al-alim). Dalam pengantar Ta’limul Muta’allim dijelaskan, beliau
adalah ahli fikih Madzhab Hanafi yang berdakwah di sekitar timur negeri yang
berada di dekat sungai, antara pertengahan kedua abad keenam dan awal abad ketujuh
hijriyah.
Meski profil Syekh Az-Zarnuji tak banyak
diketahui, kitab Ta’limul Muta’allim karangannya yang sudah berusia 850 tahun
ini adalah oase penyejuk di tengah kegersangan pendidikan saat ini. Saat ini
kita menyaksikan murid mencaci maki, bahkan memukul guru, seperti yang terjadi
di Kecamatan Pontianak Timur, Pontianak, Kalimantan Barat, pada 2018. Juga di
sebuah SMA di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Maret 2020.
Kasus guru menganiaya murid juga terjadi di
banyak tempat. Kasus ini menggambarkan guru tidak sepenuh hati mendidik murid
yang mengorbankan waktunya untuk menuntut ilmu. Dua kasus demikian menunjukkan
betapa proses pendidikan berjalan jauh dari akhlak mulia. Bahwa transfer ilmu
tidak disertai dengan pembentukan kepribadian mulia sebagaimana yang diajarkan
agama dan diwasiatkan leluhur kita.
Permasalahan ini sejatinya bukan hal baru.
Karena sejak 850 tahun lalu, Syekh Az Zarnuji sudah menjelaskan tentang
bagaimana menjalankan proses pendidikan dan penanaman ilmu dalam kepribadian
anak – anak generasi umat.
Ada 12 permbicaraan tentang proses pendidikan
dan pengajaran yang disampaikan Syekh Burhanul Islam Az-Zarnuji. Pembahasan
dimulai dari pemahaman apa itu hakikat dan keutamaan ilmu, niat belajar, cara
memilih ilmu, guru, dan teman.
Berikutnya adalah tentang kewajiban
menghormati ilmu dan guru. Di bagian ini Az-Zarnuji pada pengantar bab
menekankan, bahwa seorang murid tak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan
tidak akan bisa memanfaatkan ilmu yang didapat kalau tidak menghormati ilmu,
ahlinya, guru, dan orang dekatnya.
Bagian ini banyak menekankan pentingnya
seorang pelajar memuliakan guru sebaik mungkin. Hal ini dilakukan dengan
bertutur kata dan berperangai baik kepada guru. Kemudian membantu guru, dan
melakukan segala amal kebaikan yang membahagiakan dan memuliakan sang guru.
Namun akhlak seperti ini banyak diabaikan para penuntut ilmu. Alih-alih
menghormati dan memuliakan, ada saja dari mereka yang justru menghina, mencaci
maki, bahkan menganiaya guru, seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya.
Ini menunjukkan siswa meremehkan bahkan menzalimi ilmu, sehingga Allah tidak
menyinari hatinya dengan cahaya ilmu.
Berikutnya adalah tentang kesungguhan,
ketekunan, dan cita-cita. Bagian ini menjelaskan tentang belajar dilakukan
dalam waktu yang lama. Tidak ada kata praktis dalam menuntut ilmu. Karena ini
adalah proses yang panjang, bahkan seumur hidup (long
live education).
Kemudian ada permulaan belajar, standar, dan
urutannya. Kemudian tentang kepasrahan setelah belajar. Di sini pelajar
diarahkan untuk bertawakkal, bersikap wara’ dan menyucikan diri dari dosa,
sehingga proses belajar dan ibadah berjalan dengan baik.
“Ilmu yang dituntut para santri di pesantren adalah ilmu
bermanfaat yang membuat seseorang itu bisa bertambah takwa kepada Allah SWT.”
KH AFIFUDDIN MUHAJIR, Wakil Pengasuh
Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo
Penerbit Turos Pustaka menerjemahkan kitab klasik ini
ke bahasa Indonesia dalam beberapa keunggulan. Pertama
adalah terbitan Turos terdiri dari terjemahan pada bagian depan dan naskah
asli berbahasa Arab pada bagian belakang. Dengan memiliki buku tersebut,
maka pembaca dapat mengecek terjemahan sekaligus naskah asli dalam satu
buku. Praktis.
Seperti terbitan Turos lainnya, Ta'limul
Muta'allim juga dilengkapi dengan peta buku pada halaman awal. Dengan melihat
peta buku, seseorang akan mengetahui kemana isi buku mengarah atau bagian apa
saja yang dibahas dalam buku.
Kualitas terjemahan Turos tidak diragukan,
karena penerbit ini sudah biasa menghasilkan karya terjemahan. Selain Ta'limul
Muta'allim, Turos juga menerjemahkan dan menerbitkan Al-Hikam Ibnu
Athaillah As-Sakandari, Risalatul Amin Abu
Hasan Ali As-Syadzili, dan puluhan kitab turos lainnya.
Kitab pegangan ribuan pesantren
Ta’lim Muta’allim adalah kitab yang
dipelajari di banyak pesantren. Bahkan kebanyakan pesantren berafiliasi ke
Nahdlatul Ulama (NU) dipastikan mempelajari kitab tersebut. Biasanya santri
marhalah atau tingkatan awal akan terlebih dahulu mengaji Ta’limul Muta’allim. Yang mengajarkan kitab
ini adalah ustaz senior yang memiliki banyak pengalaman.
Kitab Ta’lim menjadi
pengantar para santri baru, sehingga mereka memahami dan mendapatkan ‘pegangan’
harus berbuat apa agar mencapai ilmu yang bermanfaat. Ta’limul Muta’allim menjadi acuan sekaligus
bimbingan bagi penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Selesai mengaji Ta’lim,
barulah anak akan diarahkan untuk memasuki berbagai khazanah keilmuan Islam,
seperti fikih: syariat shalat, zakat, sedekah, puasa, haji, umrah, nikah, dan lainnya.
Dalam buku Kitab
Kuning: Pesantren dan Tarekat, Martin van Bruinessen menjelaskan, kitab
kuning sebagai kitab klasik berbahasa Arab telah dikenal dan dipelajari pada
abad ke-16.
Argumen yang dijadikan dasar adalah dibawanya
sejumlah naskah Indonesia yang berbahasa Arab, Melayu dan Jawa ke Eropa sekitar
1600 Masehi. Di Indonesia sendiri, Ta’lim al-Muta’allim merupakan salah satu
kitab kuning yang diajarkan di banyak pesantren di Indonesia, termasuk di
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah
Syafiiyah Sukorejo Situbondo, KH Afifuddin Muhajir, mengatakan kitab Ta’lim banyak
diajarkan di pesantren lantaran bisa menjadi pegangan utama santri. "Ta’lim al-Muta’allim itu maknanya
mengajari santri cara belajar. Jadi, Ta’lim
al-Muta’allim itu lebih pada kitab pegangan santri, bukan kitab
pegangan guru," ujar Kiai Afif
Selain menjadi pegangan santri, menurut Kiai
Afif, ajaran dalam kitab Ta'lim
al-Muta'allim juga
sangat penting untuk menjadi pegangan para siswa-siswa madrasah atau sekolah .
Apalagi, generasi millenial saat ini memiliki tantangan yang sangat berat
kedepannya.
"Di kitab Ta’lim
al-Muta’allim menawarkan dua hal sebagai syarat agar santri sukses
dalam belajar, pertama adalah cita-cita yang tinggi dan kedua adalah kerajinan
atau kesungguhan," ucapnya.
Dengan kesungguhan belajar yang tinggi
tersebut generasi millenial tentunya akan mampu menghadapi segala tantangan
yang akan dihadapinya. Namun, saat ini tidak sedikit juga para pelajar yang
lancang terhadap gurunya, sehingga dalam perspektif Ta'lim
al-Muta'allim ilmunya tidak akan bermanfaat.
Karena itu, menurut Kiai Afif, kitab Ta'lim al-Muta'allim juga mengajarkan
santri atau siswa untuk menghormati ilmu dan gurunya. "Kitab ini juga
mengajarkan bagaimana menghormati ilmu. Jadi, tekanannya adalah takzim kepada
ilmu dan sebagai konsekuensi takzim kepada ilmu adalah takzim kepada orang yang
punya ilmu," katanya.
Ilmu sejatinya tidak hanya untuk dipamerkan
atau didiskusikan, tapi untuk diamalkan. Karena itu, ilmu yang dituntut para
santri di pesantren adalah ilmu bermanfaat yang membuat seseorang itu bisa
bertambah takwa kepada Allah SWT.
“Seseorang yang melaporkan gurunya kepada
kepolisian misalnya itu kan tidak takzim kepada ilmu yang diajarkan gurunya.
Artinya sangat diragukan, bahkan hampir mustahil ilmu murid tersebut bisa
bermanfaat,” ujarnya.

.png)

No comments:
Post a Comment